Dengan demikian, segala upaya rekonsiliasi dengan wakil-wakil penguasa siapapun, dan dari mana pun, tidak akan menghilangkan fakta bahwa kami bangsa Papua memang sudah dianggap binatang, dan bukan manusia di dalam negara palsu bersemboyang "bhineka tunggal ikha".
Kita mesti memfokuskan perlawanan damai dan bermartabat kepada penguasa militerisme Indonesia yang telah berhasil melahirkan kaum reaksior, ultra-nasionalis, yang sempit otak. Hati nurani mereka telah dipasung dengan nasionalisme buta, hingga terkurung dalam lingkaran gagal ideologi.
Sementara itu, kita mesti, dan tetap, membangun solidaritas bersama rakyat Yogya (dan Jawa), tanpa membangun sentimen rasis, sebagaimana sudah sejak lama kita lakukan dengan dua tugas: belajar dan melawan di Jawa. Adalah hak kita untuk terus belajar di perguruan tinggi, dan merupakan hak kita untuk mengorganisir diri dan bergerak melawan sampai Papua Merdeka.
Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) adalah mesin tempat Mahasiswa Papua mengaktualisasi teori dalam praktek perlawanan nyata, demi melahirkan manusia Papua yang tidak hanya cerdas otak, tetapi revolusioner. Karena itu, tetaplah solid berorganisasi, membangun solidaritas bersama rakyat Jogja, dan terus berlawan sampai Papua Merdeka.
Monday, 1 August 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)